@Paradigma fakta sosial
1.
EXEMPLAR
Exemplar paradigma fakta sosial ini
diambil dari kedua karya Durkheim. Durkheim meletakkan landasan paradigma Fakta
Sosial melalui karyanya The Rules of Sociological Method (1895) dan suicide
(1897). Untuk memisahkan sosiologi dari pengaruh filsafat dan untuk membantu
sosiologi mendapatkan lapangan penyelidikannya sendiri maka Durkheim membangun
satu konsep yakni: Fakta sosial
Fakta sosial ini lah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta sosial dinyatakannya sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat di pahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil dluar pemikiran manusia. Fakta sosial harus diteliti didalam dunia nyata sebagaimana orang mencari barang sesuatu lainya:
Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua macam:
1. Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak. Ditangkap dan di observasi.
2. Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata (external). Fakta sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya egoism, altruism dan opini.
Untuk memisahkan sosiologi dari psikologi, Durkheim dengan tegas pula membedakan antara fakta sosial dengan fakta psikologi. Fakta psikologi adalah fenomena yang dibawa oleh manusia sejak lahir (inherited). Dengan demikian bukan merupakan hasil pergaulan hidup masyararakat. Fakta sosial tidak dapat diterangkan dengan fakta psikologi. Ia hanya dapat diterangkan dengan fakta sosial pula. Karena itu ahli psikologi telah diperingatkan pula untuk tidak terlallu lama membuang waktu dengan mencoba menyelidiki fakta sosial karena fakta sosial adalah lapangan penyelidikan dari sosiologi.
Fakta sosial ini lah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta sosial dinyatakannya sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat di pahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil dluar pemikiran manusia. Fakta sosial harus diteliti didalam dunia nyata sebagaimana orang mencari barang sesuatu lainya:
Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua macam:
1. Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak. Ditangkap dan di observasi.
2. Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata (external). Fakta sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya egoism, altruism dan opini.
Untuk memisahkan sosiologi dari psikologi, Durkheim dengan tegas pula membedakan antara fakta sosial dengan fakta psikologi. Fakta psikologi adalah fenomena yang dibawa oleh manusia sejak lahir (inherited). Dengan demikian bukan merupakan hasil pergaulan hidup masyararakat. Fakta sosial tidak dapat diterangkan dengan fakta psikologi. Ia hanya dapat diterangkan dengan fakta sosial pula. Karena itu ahli psikologi telah diperingatkan pula untuk tidak terlallu lama membuang waktu dengan mencoba menyelidiki fakta sosial karena fakta sosial adalah lapangan penyelidikan dari sosiologi.
2.
POKOK PERSOALAN
Pokok persoalan yang harus menjadi pusat perhatian penyelidikan sosiologi menurut paradigma ini adalah : fakta-fakta sosial. Secara garis besarnya fakta sosial terdiri atas dua tipe. Masing-masing adalah struktur sosial (sosial institution) dan pranata sosial. Sifat dasar serta antar hubungan dari fakta sosial inilah yang menjadi sasaran penelitian sosiologi menrurt paradigma fakta sosial.
Secara lebih terperinci fakta sosial itu terdiri atas : kelompok, kesatuan masyarakat tertentu (societies), system sosial, posisi, peranan, nilai-nilai, keluarga, pemerintahan dsb.
Menurut Peter Blau ada dua tipe dasar dari fakta sosial
- Nilai-nilai umum (common values)
- Norma yang terujud dalam kebudayaan atau dalam subculture
Norma dan pola nilai ini biasa disebut institutopm
atau disini diartikan dengan pranata. Sedangkan jaringan hubungan sosial dimana
interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir serta melalui mana
posisi-posisi sosial dari individu dan sub kelompok dapat dibedakanm sering
diartikan sebagai struktur sosial. Dengan demikian, struktur sosial dan pranata
sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi menurut
paradigma fakta sosial.
Bagi penganut paradigma fakta sosial, apakah mereka memusatkan perhatiannya kepada struktur sosial atau kepada pranata sosial, namun keduanya mereka pandang sebagai barang sesuatu yang sungguh-sungguh ada dalam bentuk material yang utuh dan kompleks. Perhatian utama penganut paradigma fakta sosial terpaut kepada antar hubungan antara struktur sosial, pranata sosial dan hubungan antara individu dengan struktur sosial serta antara hubungan antara individu dengan pranata sosial. Teori-teori sosiologi berbeda terminologi dalam mengkonseptualisasikan antar hubungan pranata sosial, struktur sosial dan individu ini. Perbedaan tersebut jelas terlihat dalam bahasan.
Bagi penganut paradigma fakta sosial, apakah mereka memusatkan perhatiannya kepada struktur sosial atau kepada pranata sosial, namun keduanya mereka pandang sebagai barang sesuatu yang sungguh-sungguh ada dalam bentuk material yang utuh dan kompleks. Perhatian utama penganut paradigma fakta sosial terpaut kepada antar hubungan antara struktur sosial, pranata sosial dan hubungan antara individu dengan struktur sosial serta antara hubungan antara individu dengan pranata sosial. Teori-teori sosiologi berbeda terminologi dalam mengkonseptualisasikan antar hubungan pranata sosial, struktur sosial dan individu ini. Perbedaan tersebut jelas terlihat dalam bahasan.
3.
TEORI-TEORI
Ada empat varian teori yang
tergabung kedalam paradigma fakta sosial ini. Masing-masing adalah :
- Teori fungsionalisme structural
- Teori konflik
- Teori system
- Teori sosiologi makro
Yang dominan adalah dua teori yang disebut mula-mula. Yang
dibicarakan juga hanya kedua teori pertama itum yakni teori fungsionalisme
structural dan teori konflik.
TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL
Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan keseimbangan (equilibrium)
TEORI KONFLIK
Teori ini dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap teori fungsionalisme structural. Karena itu tidak mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan dengan proposisi yang terdapat dalam teori fungsionalisme structural. Tokoh utama teori konflik adalah Ralp Dahrendorf.
Kalau menurut teori fungsionalisme structural masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan maka menurut teori konflik malah sebaliknya. Masyarakat senantiasa dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangtan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya.
Kesimpulan penting yang dapat diambil adalah bahwa teori konflik ini ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat di samping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu dipandangnhya dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan.
TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL
Teori ini menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah : fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan keseimbangan (equilibrium)
TEORI KONFLIK
Teori ini dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap teori fungsionalisme structural. Karena itu tidak mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan dengan proposisi yang terdapat dalam teori fungsionalisme structural. Tokoh utama teori konflik adalah Ralp Dahrendorf.
Kalau menurut teori fungsionalisme structural masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan maka menurut teori konflik malah sebaliknya. Masyarakat senantiasa dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangtan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya.
Kesimpulan penting yang dapat diambil adalah bahwa teori konflik ini ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat di samping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu dipandangnhya dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan.
4.
METODE PENELITIAN PARADIGMA FAKTA SOSIAL
Penganut paradigma fakta sosial cenderung mempergunakan metode kuesioner dan intervieu dalam penelitian empiris mereka. Metode observasi umpamanya ternyata tidak begitu cocok untuk studi fakta sosial. Alasannya karena sebagian besar dari fakta sosialmerupakan sesuatu yang dianggap sebagai barang sesuatu (a thing_ yang nyata yang tidak dapat diamati secara langsung. Hanya dapat di pelajari melalu pemahaman (intepretatif understanding). Selain itu metode observasi dinilai terlalu sempit dan kasar untuk tujuan penelitian fakta sosial. Metode experiment juga ditolak pemakaiannya alasannya karena terlalu sempit untuk dapat meneliti fakta sosial yang memang bersifat makroskopik.
Pemakaian metode kuesioner dan interview oleh para penganut paradigma fakta sosial ini sebenarnya mengandung suatu ironi sebab informasi yang dikumpulkan melalui kuesioner dan interview banyak mengandung unsure subyektivitas dari si informan.
Terhadap kelemahan metode tersebut James Coleman (1970) mengajukan beberapa saran sbb. Pertama kelemahan kuesioner dan interview dapat diatasi dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang runtun secara rasional. Kedua dengan mengajukan pertanyaak ekpada individu tentang unit sosialnya sendiri. Dua cara ini merupakan cara terakhir untuk memperoleh informasi fakta sosial. Ketiga dengan menggunakan teknik sampling yang disebut coleman:”Snowball Sampling”. Artinya menanyakan kepada anggota sampel siapa saja yang menjadi teman terdekatnnya. Selain dari itu dapat pula dipergunakan teknik sampling yang disebutnya :saturation samling, yakni dengan mengajukan pertannyaan sosiometrik dalam jumlah yang banyak. Terakhir dapat pula dilakukan sampling bertingkat (multi stage sampling).
Paradigma Sosiologi - Defenisi Sosial
1. EXEMPLAR
Exemplar paradigma ini adalah salah satu aspek yang sangat
khusus dari karya Weber, yakni dalam analisanya tentang tindakan sosial. Konsep
Weber tentang fakta sosial berbeda sekali dari konsep Durkheim. Weber tidak
memisahkan dengan tegas antara struktur sosial dengan pranata sosial. Struktur
sosial dan pranata sosial keduanya membantu untuk membentuk tindakan manusai
yang penuh arti dan penuh makna.
2. POKOK PERSOALAN
Weber mengartikan sosiologi sebagai studi tentang tindakan
sosial antar hubungan sosial. Kedua hal itulah yang menurutnya menjadi pokok
persoalan sosiologi. Yang dimaksudkannya dengan tindakan sosial itu adalah
tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif
bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
Secara defenitif Weber merumuskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Dalam defenisi ini terkandung dua konsep dasarnya. Pertama konsep tindakan sosial. Kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman. Konsep terakhir ini menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.
Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi yaitu:
Secara defenitif Weber merumuskan sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Dalam defenisi ini terkandung dua konsep dasarnya. Pertama konsep tindakan sosial. Kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman. Konsep terakhir ini menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.
Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi yaitu:
- Tindakan manusia, yang menurut si actor mengandung makna yang subyektif. Ini meluputi berbagai tindakan nyata.
- Tindakan nyata dan bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyekfif
- Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
- Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
- Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu
Tindakan
sosial dapat pula dibedakan dari sudut waktu sehingga ada tindakan yang
darahkan kepada waktu sekarang, waktu lalu atau waktu yang akan dating.
Pertanyaannya: bagaimana mempelajari tindakan sosial itu ? Weber menganjurkan melalui penafsiran dan pemahaman (intepretatif understanding) atau menurut terminologi Weber sendiri dengan: Verstehen. Jelas disini untuk mempelajarinya tidak mudah. Bila seseorang hanya berusaha meneliti perilaku (behavior) saja dia tidak akan yuakin bahwa perbuatan itu mempunya iarti subyektif dan diarah kan kepada orang lain. Peneliti sosiologi harus mencoba menginterpretasikan tindakan si actor. Dalam artian yang mendasar, sosiolog harus memahami motif dari tindakan si actor.
Timbul pertanyaan kedua: Bagaimana memahami motif tindakan si actor itu? Hal ini weber menyarankan dua cara: 1). Dengan melalui kesungguhan 2). Dengan coba mengenangkan dan menyelami pengalaman siaktor.
Tambahan idenya tentang pemahaman ini menempatkan Weber terpisah dari penganut paradigma lainnya. Metode pemahaman yang diajukan weber ini bukan hanya bersifat pemberian penjelasan kausal belaka terhadap tindakan sosial manusia seperti penjelasan dalam ilmu alam.
Pertanyaannya: bagaimana mempelajari tindakan sosial itu ? Weber menganjurkan melalui penafsiran dan pemahaman (intepretatif understanding) atau menurut terminologi Weber sendiri dengan: Verstehen. Jelas disini untuk mempelajarinya tidak mudah. Bila seseorang hanya berusaha meneliti perilaku (behavior) saja dia tidak akan yuakin bahwa perbuatan itu mempunya iarti subyektif dan diarah kan kepada orang lain. Peneliti sosiologi harus mencoba menginterpretasikan tindakan si actor. Dalam artian yang mendasar, sosiolog harus memahami motif dari tindakan si actor.
Timbul pertanyaan kedua: Bagaimana memahami motif tindakan si actor itu? Hal ini weber menyarankan dua cara: 1). Dengan melalui kesungguhan 2). Dengan coba mengenangkan dan menyelami pengalaman siaktor.
Tambahan idenya tentang pemahaman ini menempatkan Weber terpisah dari penganut paradigma lainnya. Metode pemahaman yang diajukan weber ini bukan hanya bersifat pemberian penjelasan kausal belaka terhadap tindakan sosial manusia seperti penjelasan dalam ilmu alam.
3. TEORI-TEORI DEFENISI SOSIAL
Ada tiga teori yang termasuk ke dalam paradigma defenisi
sosial ini. Masing-masing: Teori aksi (action theory), interaksionisme
simbolik(simbolik interactionism) dan fenomenologi (phenomenology). Ketiga
tiganya jelas mempunyai beberapa perbedaan, tapi juga dengan beberapa persamaan
dalam factor-faktor yang menetukan tujuan penyelidikannya serta gambaran
tentang pokok persoalan sosiolgi menurut masing-masing yang dapat mengurangi
perbedaannya.
Ketiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial, sama sama mengarahkan perhatian kepada: proses sosial, terutama para pengikut interaksionisme simbolik. Dalam kadar yang agak kurang terdapat pula pada penganut teori aksi dan fenomenologi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas berikut ini akan dibahas ketiga teori itu satu persatu.
Ketiga teori yang termasuk kedalam paradigma definisi sosial, sama sama mengarahkan perhatian kepada: proses sosial, terutama para pengikut interaksionisme simbolik. Dalam kadar yang agak kurang terdapat pula pada penganut teori aksi dan fenomenologi.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas berikut ini akan dibahas ketiga teori itu satu persatu.
TEORI AKSI (Action Theory)
Teori ini sepenuhnya mengikuti karya Weber. Teori aksi
dewasa ini tidak banyak emngalami perkembangan melebihi apa yang sudah di capai
took utamanya Weber. Malahan teori ini sebenarnya telah mengalami semacam jalan
buntu. Arti pentingnya justru terletak pada peranannya dalam mengembangkan
kedua teori berikutnya yakni teori interaksionisme simbolis dan teori
fenomenologi.
TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Teori interaksionisme simbolik ini berkembang pertama kali
di Universitas Chicago dikenal dengan aliran Chicago. Dua orang tokoh besarnya
John Dewey dan Charles Horton Cooley adalah filosof yang semula mengembangkan
Teori interaksionisme simbolik di Universitas Michigan. Dewey yang pindah ke
Universitas Chicago mempengaruhi beberapa orang tokoh disana.
Walaupun begitu dari keseluruhan aliran pemikiran sosiologi. Interaksionisme simbolik adalah teori yang paling sukar disimpulkan. Teori ini berasal dari berbagai sumber tetapi tidak ada satu sumber yangdapat memberikan pernyataan tunggal tentang apa yang menjadi isi dari teori ini, kecuali satu hal, yakni bahwa ide dasar teori ini bersifat menentang behaviorisme radikal yang dipelopori oleh J.B.Watson. hal ini tercermin dari gagasan tokoh sentral teori yakni G.H. Mead yang bermaksud untuk membedakan teori ini dari teori behavioralisme radikal itu.
Behaviorisme sebagaimana namanya menunjukan, mempelajari tingkah laku manusia secara obyektif dari luar. Sedang kan Mead dari interaksionisme simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan mempergunakan teknik itrospeksi untuk dapat mengetahui barang sesuatu yang melatar belakangi tindakan sosial itu dari sudut actor.
Walaupun begitu dari keseluruhan aliran pemikiran sosiologi. Interaksionisme simbolik adalah teori yang paling sukar disimpulkan. Teori ini berasal dari berbagai sumber tetapi tidak ada satu sumber yangdapat memberikan pernyataan tunggal tentang apa yang menjadi isi dari teori ini, kecuali satu hal, yakni bahwa ide dasar teori ini bersifat menentang behaviorisme radikal yang dipelopori oleh J.B.Watson. hal ini tercermin dari gagasan tokoh sentral teori yakni G.H. Mead yang bermaksud untuk membedakan teori ini dari teori behavioralisme radikal itu.
Behaviorisme sebagaimana namanya menunjukan, mempelajari tingkah laku manusia secara obyektif dari luar. Sedang kan Mead dari interaksionisme simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan mempergunakan teknik itrospeksi untuk dapat mengetahui barang sesuatu yang melatar belakangi tindakan sosial itu dari sudut actor.
TEORI FENOMENOLOGI
Persoalan pokok yang hendak diterangkan oleh teori ini
justru menyangkut persoalan pokok ilmu sosial sendiri, yakni bagaimana
kehidupan bermasyarakat ini dapat terbentuk.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa interaksi sosial terjadi dan berlangsung melalui penafsiran dan pemahaman tindakan masing-masing baik antar individu maupun antar kelompok.
Ada empat unsur pokok dari teori ini:
Secara singkat dapat dikatakan bahwa interaksi sosial terjadi dan berlangsung melalui penafsiran dan pemahaman tindakan masing-masing baik antar individu maupun antar kelompok.
Ada empat unsur pokok dari teori ini:
- Perhatian terhadap actor. Penggunaan metode ini dimaksudkan pula untuk mengurangi pengaruh subyektivitas yang menjadi sumber penympangan, bias dan ketidaktepatan informasi.
- Memusatkan perhatian pada kenyataan yang penting atau yang pokok dak kepada sikap yang wajar atau alamiah (natural attitude) alasannya adalah tidak keseluruhan gejala kehidupan sosial mampu diamati. Karena itu perhatian harus dipusatkan kepada gejala yang penting dari tindakan manusai sehari-hari dan terhadap sikap-sikap yang wajar.
- Memusatkan perhatian kepada masalah mikro. Maksudnya mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka untuk memahaminya dalam hubungan nya dengan situasi tertentu.
- Memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan. Berusaha memahami bagaimana keteraturan masyarakat diciptakan dan dipelihara dalam kehidupan pergaulan sehari-hari.
4. METODE DEFENISI SOSIAL
Penganut paradigma Definisi sosial ini cenderung
mempergunakan metode observasi dalam penelitian mereka. Alasannya adalah untuk
dapat memahami realitas intrasubhective dan intersubjective dari tindakan
sosial dan interaksi sosial. Untuk maksud tersebut metode kuesioner dan interview
dinilai kurang relefvan. Begitupula metode eksperimen. Metode ini meskipun
dapat mengganggu spontanitas tindakan serta kewajaran dari sikap si actor yang
diselidiki, melalui penggunaan metode observasi dapat disimpulkan hal hal yang
bersifat intrasubjective dan intersubjective yang timbul dari tindakan actor
yang diamati.
Tipe teknik observasi
Teknik yang paling ringan adalah observasi yang bersifat eksplorasi. Teknik ini paling subyektif sifatnya dan pemakaiannya berhubungan erat dengan rencana observasi yang sebernarnya. Biasanya teknik observasi dipergunakan terutama untuk mengamati tingkahlaku actual, berdasarkan cara peneliti berpartisipasi didalam kelompok yang diselidikinya, dapat dibedakan empat tipe observasi:
Tipe teknik observasi
Teknik yang paling ringan adalah observasi yang bersifat eksplorasi. Teknik ini paling subyektif sifatnya dan pemakaiannya berhubungan erat dengan rencana observasi yang sebernarnya. Biasanya teknik observasi dipergunakan terutama untuk mengamati tingkahlaku actual, berdasarkan cara peneliti berpartisipasi didalam kelompok yang diselidikinya, dapat dibedakan empat tipe observasi:
- Participant observation. Peneliti tidak memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diselidikinya. Peneliti dengan sengaja menyembunyikan bahwa kehadirannya ditengah-tengah kelompok yang diselidikinya itu adalah untuk meneliti.
- Participant as observer. Bedanya dengan teknik yang pertama terletak pada kenyataan bahwa dalm teknik ini peneliti memberitahukan maksudnya kepada kelompok yang diteliti.
- Observer as participant. Teknik ini dipergunakan dalam penelitian yang hanya berlangsung dalam sekali kunjungan dan dalam waktu singkat, misalnya sehari. Karena itu teknik ini jelas memerlukan perencanaan yang sangat terperinci tentang segala sesuatu yang akan dicari melalui penelitian singkat itu.
- Complete observer. Peneliti tidak berpartisipasi tetapi menempatkan dirinya sebagai orang luar sama sekali dan subyek yang diselidiki tidak menyadari bahwa mereka sedang diselidiki. Teknik ini dapat terstruktur atau tidak.
Kelemahan
teknik observasi ini ialah bahwa diberitahukan atau tidak namun kehadiran
peneliti ditengah-tengah kelompok yang diselidiki itu akan mempengaruhi tingkah
laku subyek yang diselidiki itu. Lagi pula tidak semua tingkah laku dapat
diamati dengan teknik ini. Seperti tingkah laku seksual misalnya.
1.
EXEMPLAR
Pendekatan behaviorisme dalam ilmu
sosial sudah dikenal sejak lama, khususnya psikologi. Kebangkitannya di seluruh
cabang ilmu sosial di zaman modern, ditemukan dalam karya B.F. Skinner, yang
sekaligus pemuka exemplar paradigma ini. Melalui karya itu skinner mencoba
menerjemahkan prinsip-prinsip psikologi aliran behaviorisme kedalam sosiologi.
Teori, gagasan dan praktek yang dilakukannya telah memegang peranan penting
dalam pengembangan sosiologi behavior.
Skinner melihat kedua paradigma fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti mengandung sesuatu persoalan yang bersifat teka-teki, tidak dapat diterangkan secara rasional. Kritik skinner ini tertuju kepada masalah yang substansial dari kedua paradigma itu, yakni eksistensi obyek studinya sendiri. Menurut Skinner, kedua paradigma itu membangun obyek studi berupa sesuatu yang bersifat mistik.
Ide pengembangan paradigma perilaku sosial ini dari awal sudah dimaksudkan untuk menyerang kedua paradigma lainnya. Karena itu tidak mengherankan bila perbedaan pandangan antara paradigma perilaku sosial dengan kedua paradigma lainnya itu merupakan sesuatu yang tidak dapat terelakkan.
Dalam bukunya Beyond Freedom and Dignity Skinner menyerang langsung paradigma definisi sosial dan secara tak langsung terhadap paradigma fakta sosial, seperti yang tercermin dalam uraian berikut. Konsep yang didefinisikan oleh paradigma fakta sosial dinilainya mengandung ide yang bersifat tradisional khususnya mengenai nilai-nilai sosial. Menurutnya pengertian kultur yang diciptakan itu tak perlu disertai dengan unsure mistik seperti ide dan nilai sosial itu. Alasannya karena orang tidak dapat melihat secara nyata ide dan nilai-nilai dalam mempelajari masyarakat. Yang jelas terlihat adalah bagimana manusia hidup, memelihara anaknya, cara berpakaian, mengatur kehidupan bersamanya dan sebagainya.
Skinner melihat kedua paradigma fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif yang bersifat mistik, dalam arti mengandung sesuatu persoalan yang bersifat teka-teki, tidak dapat diterangkan secara rasional. Kritik skinner ini tertuju kepada masalah yang substansial dari kedua paradigma itu, yakni eksistensi obyek studinya sendiri. Menurut Skinner, kedua paradigma itu membangun obyek studi berupa sesuatu yang bersifat mistik.
Ide pengembangan paradigma perilaku sosial ini dari awal sudah dimaksudkan untuk menyerang kedua paradigma lainnya. Karena itu tidak mengherankan bila perbedaan pandangan antara paradigma perilaku sosial dengan kedua paradigma lainnya itu merupakan sesuatu yang tidak dapat terelakkan.
Dalam bukunya Beyond Freedom and Dignity Skinner menyerang langsung paradigma definisi sosial dan secara tak langsung terhadap paradigma fakta sosial, seperti yang tercermin dalam uraian berikut. Konsep yang didefinisikan oleh paradigma fakta sosial dinilainya mengandung ide yang bersifat tradisional khususnya mengenai nilai-nilai sosial. Menurutnya pengertian kultur yang diciptakan itu tak perlu disertai dengan unsure mistik seperti ide dan nilai sosial itu. Alasannya karena orang tidak dapat melihat secara nyata ide dan nilai-nilai dalam mempelajari masyarakat. Yang jelas terlihat adalah bagimana manusia hidup, memelihara anaknya, cara berpakaian, mengatur kehidupan bersamanya dan sebagainya.
2.
POKOK PERSOALAN
Paradigma perilaku sosial memusatkan
perhatiannya kepada antar hubungan antara individu dan lingkungannya.
Lingkungan itu terdiri atas:
a) Bermacam-macam obyek sosial
b) Bermacam-macam obyek non sosial
Prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek sosial adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek non sosial.
Penganut paradigma ini memusatkan perhatian kepada proses interaksi. Tetapi secara konseptual berbeda dengan paradigma definisi sosial. Bagi paradigma definisi sosial, actor adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam interaksi. Actor tidak hanya sekedar penanggap pasif terhadap stimulus tetapi menginterpretasikan stimulus yang diterimanya menurut caranya mendefinisikan stimulus yang diterimanya itu. Bagi paradigma perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan.
Perbedaan pandangan antara paradigma perilaku sosial ini dengan paradigma fakta sosial terletak pada sumber pengendalian tingkah laku individu. Bagi paradigma fakta sosial, strutur makroskopik dan pranata-pranata yang mempengaruhi atau yang mengendalikan tingkah laku inidividu, bagi paradigma perilaku sosial persoalannya lalu bergeser. Sampa seberapa jauh faktro struk tru hubungan individu dan terhadap kemungkinan perulangan kembali persoalan ini yang dicoba di jawab oleh teori-teori paradigma prilaku sosial.
Lingkungan itu terdiri atas:
a) Bermacam-macam obyek sosial
b) Bermacam-macam obyek non sosial
Prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek sosial adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek non sosial.
Penganut paradigma ini memusatkan perhatian kepada proses interaksi. Tetapi secara konseptual berbeda dengan paradigma definisi sosial. Bagi paradigma definisi sosial, actor adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam interaksi. Actor tidak hanya sekedar penanggap pasif terhadap stimulus tetapi menginterpretasikan stimulus yang diterimanya menurut caranya mendefinisikan stimulus yang diterimanya itu. Bagi paradigma perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan.
Perbedaan pandangan antara paradigma perilaku sosial ini dengan paradigma fakta sosial terletak pada sumber pengendalian tingkah laku individu. Bagi paradigma fakta sosial, strutur makroskopik dan pranata-pranata yang mempengaruhi atau yang mengendalikan tingkah laku inidividu, bagi paradigma perilaku sosial persoalannya lalu bergeser. Sampa seberapa jauh faktro struk tru hubungan individu dan terhadap kemungkinan perulangan kembali persoalan ini yang dicoba di jawab oleh teori-teori paradigma prilaku sosial.
3.
TEORI-TEORI PRILAKU SOSIAL
Ada dua teori yang termasuk ke dalam
paradigma perilaku sosial 1). Behavioral Sosiologi dan 2). Teori exchange
1) Teori Behavioral Sosiologi
Teori ini dibangun dalam rangka menerapkan prinsip psikologi perilaku kedalam sosiologi. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan actor dengan tingkah laku actor.
Konsep dasar behavioral sosiologi yang menjadi pemahamannya adalah “reinforcement” yang dapat diartikan sebagai ganjaran (reward) tak ada sesuatu yang melekat dalam obyek yang dapat menimbulkan ganjaran. Perulangan tingkahlaku tak dapat dirumuskan terlepas dari efeknya terhadap perilaku itu sendiri. Perulangan dirumuskan dalam pengertiannya terhadap actor.
2) Teori Exchange
Tokoh utamanya adalah George Hofman. Teori ini dibangun dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial.
Keseluruhan materi teori exchange itu secara garis besarnya dapat dikembalikan kepada lima proposisi George Hofman berikut:
1) Teori Behavioral Sosiologi
Teori ini dibangun dalam rangka menerapkan prinsip psikologi perilaku kedalam sosiologi. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan actor dengan tingkah laku actor.
Konsep dasar behavioral sosiologi yang menjadi pemahamannya adalah “reinforcement” yang dapat diartikan sebagai ganjaran (reward) tak ada sesuatu yang melekat dalam obyek yang dapat menimbulkan ganjaran. Perulangan tingkahlaku tak dapat dirumuskan terlepas dari efeknya terhadap perilaku itu sendiri. Perulangan dirumuskan dalam pengertiannya terhadap actor.
2) Teori Exchange
Tokoh utamanya adalah George Hofman. Teori ini dibangun dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial.
Keseluruhan materi teori exchange itu secara garis besarnya dapat dikembalikan kepada lima proposisi George Hofman berikut:
- Jika tingkah laku atau kejadian yang sudah lewat dalam konteks stimulus dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkah laku atau kejadian yang mempunyai hubungan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi atau dilakukan. Proposisi ini menyangkut hubungan antara apa yang terjadi pada waktu silam dengan yang terjadi pada waktu sekarang.
- Menyangkut frekwensi ganjaran yang diterima atas tanggapan atau tingkah laku tertentu dan kemungkinan terjadinya peristiwa yang sama pada waktu sekarang.
- Memberikan arti atau nilai kepada tingkah laku yang diarahkan oleh orang lain terhadap actor. Makin bernilai bagi seorang sesuatu tingkah laku orang lain yang ditujukan kepadanya makin besar kemungkinan untuk mengulangi tingkah lakunya itu.
- Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya
- Makin dirugikan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, makin besar kemungkinan orang tersebut akan mengembangkan emosi. Misalnya marah.
4.
METODE
Paradigma perilaku sosial dapat
menggunakan metode yang dipergunakan oleh paradigma yang lain seperti
kuesioner, interview dan observasi. Namun demikian paradigma ini tidak banyak
mempergunakan metode experiment dalam penelitiannya. Keutamaan metode
eksperimen adalah memberikan kemungkinan terhadap peneliti untuk mengontrol
dengan ketat obyek dan kondisi disekitarnya. Metode ini memungkinkan pula
untuk membuat penilaian atau pengukuran dengan tingkat ketepatan yang tinggi
terhadap efek dari perubahan-perubahan tingkah laku actor yang ditimbulkan
dengan sengaja didalam eksperimen itu
Perbedaan Antar Paradigma Dalam Ilmu Sosiologi
in Defenisi
Sosial, Fakta
Sosial, George
Ritzer, Paradigma
Sosiologi, Perilaku
Sosial - on 11:02 PM - No
comments
Ritzer menemukan perbedaan antara ketiga paradigma
sosiologi itu bersifat estetis. Perbedaan ini sesuai dengan pengalaman
penelitian dilapangan. Berbagai komponen dalam masing-masing paradigma saling
menyesuaikan diri kearah hubungan yang makin harmonis.
Keseluruhan pendekatan teoritis dalam masing-masing paradigma diakui sebagai persamaan yang medasar, meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi teoritis. Metode yang disukai oleh masing-masing paradigma, jelas sekali salng berpautan dengan masing-masing paradigma. Karena itu menurut Ritzer, paradigma yang ada dalam sosiologi itu saling berhubungan satu sama lain dengan demikian akan melemahkan sebagian besar dasar-dasar perbedaan yang ada sekarang. Ada memang perspektif yang tak dapat dikategorikan. Diantaranya adalah teori penting yang laihir dari aliran Frankfurt yang menentang klasifikasi. Teori ini menggambarkan dasar bagi kemunculan paradigma keempat. Yang lainny adalah semakin meningkatnya arti penting dari aliran biologi dalam sosiologi.
Keseluruhan pendekatan teoritis dalam masing-masing paradigma diakui sebagai persamaan yang medasar, meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi teoritis. Metode yang disukai oleh masing-masing paradigma, jelas sekali salng berpautan dengan masing-masing paradigma. Karena itu menurut Ritzer, paradigma yang ada dalam sosiologi itu saling berhubungan satu sama lain dengan demikian akan melemahkan sebagian besar dasar-dasar perbedaan yang ada sekarang. Ada memang perspektif yang tak dapat dikategorikan. Diantaranya adalah teori penting yang laihir dari aliran Frankfurt yang menentang klasifikasi. Teori ini menggambarkan dasar bagi kemunculan paradigma keempat. Yang lainny adalah semakin meningkatnya arti penting dari aliran biologi dalam sosiologi.
PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI SEKARANG
Sosiologi dewasa ini secara radikal terbagi dalam tiga
paradigma yang saling bersaingan. Masing masing berjuang mencapai dominasi.
Pada waktu bersamaan ketiganya berkompetisi untuk memperoleh keunggulan dalam
sub-area yang berdekatan dalam sosiologi. Tak ada pendukung paradigma tertentu
yang bebas dari keritik penganut paradigma lainnya. Adapun yang menjadi
implikasi dari kemajemukan paradigma tersebut terhadap sosiologi modern dewasa
ini.
PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI DIMASA DATANG
Ritzer menduga sebagian besar sosiolog tidak menyadari ujud
perbedaan yang mendasar dalam sosiologi itu. Sebagian besar sosiolog dimasa
lalu percaya perbedaan antara teori konflik dan teori fungsionalisme structural
merupakan perbedaan yang mendasar dalam sosiologi.
Konklusi paling umum ialah bahwa dalam waktu dekat akan terjadi perdamaian paradigma sosiologi. Dalam waktu singkat nampaknya tak aka nada paradigma dominan dalam sosiologi. Alasannya banyak.
Pertama, jarang terjadi suatu ilmu didominasi oleh satu paradigma saja.
Kedua, meskipun penganut masing-masing paradigma menyatakan mampu menyelesaikan segenap persoalan sosiologi, namun pendekatan mereka rupanya hanya cocok untuk bidang realitas sosial tertentu saja.
Ketiga, dan terpenting, karena kesetiaan yang fanatic penganut paradigma itu terhadap politik dan tujuan paradigmanya masing-masing belum terlihat langkah-langkah yang berarti kearah pengembangan paradigma tunggal sampai saat ini karena kebanyakan sosiolog lebih beketetapan hati terhadap paradigma yang mereka anut daripada pengembangan pemikiran sosiologisnya. Komitmen utama mereka ialah untuk memenangkan paradigma yang mereka anut.
Untuk memahami ketiga paradigma, paradigma fakta sosial, paradigma prilaku sosial dan paradigma defenisi sosial secara mendalam kita harus mempelajari strukturnya, norma-norma dan nilai-niali yang dilipatnya seperti, definisi situasi dan akibat tindakan dari sosiolog penganut masing-masing paradigma itu. Suatu paradigma sosiologi mencakup struktur, institusi, defenisi situasi, tindakan dan kemungkinan perulangan tindakan. Berdasarkan kenyataan ini kita memerlukan seluruh paradigma.
Konklusi paling umum ialah bahwa dalam waktu dekat akan terjadi perdamaian paradigma sosiologi. Dalam waktu singkat nampaknya tak aka nada paradigma dominan dalam sosiologi. Alasannya banyak.
Pertama, jarang terjadi suatu ilmu didominasi oleh satu paradigma saja.
Kedua, meskipun penganut masing-masing paradigma menyatakan mampu menyelesaikan segenap persoalan sosiologi, namun pendekatan mereka rupanya hanya cocok untuk bidang realitas sosial tertentu saja.
Ketiga, dan terpenting, karena kesetiaan yang fanatic penganut paradigma itu terhadap politik dan tujuan paradigmanya masing-masing belum terlihat langkah-langkah yang berarti kearah pengembangan paradigma tunggal sampai saat ini karena kebanyakan sosiolog lebih beketetapan hati terhadap paradigma yang mereka anut daripada pengembangan pemikiran sosiologisnya. Komitmen utama mereka ialah untuk memenangkan paradigma yang mereka anut.
Untuk memahami ketiga paradigma, paradigma fakta sosial, paradigma prilaku sosial dan paradigma defenisi sosial secara mendalam kita harus mempelajari strukturnya, norma-norma dan nilai-niali yang dilipatnya seperti, definisi situasi dan akibat tindakan dari sosiolog penganut masing-masing paradigma itu. Suatu paradigma sosiologi mencakup struktur, institusi, defenisi situasi, tindakan dan kemungkinan perulangan tindakan. Berdasarkan kenyataan ini kita memerlukan seluruh paradigma.
JEMBATAN PARADIGMA
Menurut Ritzer semua teoritis besar sosiologi sebenarnya
mampu menjadi jembatan paradigma. Mereka sedikit banyak mampu bergerak dengan
mudah diantara dua atau lebih paradigma yang didiskusikan disini. Ini sama
sekali bukan proses yang disadari sekalipun sebagian besar teoritisi itu merasa
perlu menerangkan realitas sosial menurut cara yang berlainan. Ada yang mencoba
berususan dengan berbagai macam paradigma sekaligus, sementara yang lain
berpindah dari satu paradigma ke paradigma lainnya. Yang termasuk jembatan
paradigma dalam sosiologi ialah : Durkheim, Weber, Marx dan Parsons.
Secara terperinci kandungan Bab ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
Secara terperinci kandungan Bab ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
- Behaviorisme selain disukai banyak sosiolog juga merupakan perspektif utama sosiologi kontemporer. Sebagian besar analisa sosiologi mengabaikan arti penting behaviorisme
- Konsepsi umum yang memisahkan antara teori fungsionalisme structural dan teori konflik adalah menyesatkan. Kedua teori ini lebih banyak unsure persamaanya ketimbang perbedaanya, karena keduanya tercakup kedalam satu paradigma
- Implikasi lain ialah adanya hubungan antara teori dan metode yang selalu dikira dipraktekan secara terpisah satu sama lain. Umumnya terdapat keselarasan antara teori dan metode
- Ada irrasionalitas dalam sosiologi, kebanyakan sosiolog yang terlibat dalam pekerjaan teoritis dan metodologi tidak memahami kaitan erat antar keduanya.
- Pertentangan antar paradigma sosiologi sangat bersifat politik. Tiap paradigma bersaing disetiap bidang sosiologi. Kebanyakan upaya semata-msata untuk menyerang lawan dari paradigma lain dengan berondongan kata-kata yang berlebih-lebihan.
Pengertian Paradigma Sosiologi - George Ritzer
Kajian ini berusaha membahas beberapa permasalahan sebagai
berikut: Apa
yang dimaksudkan dengan paradigma sosiologi itu? Apa sebab timbulnya
paradigma dalam sosiologi ? Bagaimana hubungan antara paradigma yang satu
dengan paradigma yang lain? Inilah beberapa masalah yang dibahas dalam uraian
berikut ini.
Disadur dari buku Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda - George Ritzer, setiap babnya terbagi kedalam beberapa post yang bisa dilihat di halaman bawah.
Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khuhn dengan karyanya The structure of Scientific Revolution (1962). Konsep paradigma yang di populerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukunya Sosiology of Sosiology (1970) yang kemudian selanjutnya di ikuti oleh Lodahl dan Cordon (1972), Philips (1973), Effrat (1972) serta Friedrichs sendiri (1972a) dan (1972 b)
Paradigma merupakan terminologi kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan yang diperkanalkan Kuhn. Tapi sayangnya ia tidak merumuskan dengan jelas tentang apa yang dimaksudkannya dengan paradigma itu. Malahan istilah paradigma yang dipergunakan tak kurang dari dua puluh satu cara yang berbeda. Masterman mencoba meredusir kedua puluh satu konsep paradigma Kuhn yang berbeda beda itu menjadi tiga tipe. Yaitu:
Disadur dari buku Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda - George Ritzer, setiap babnya terbagi kedalam beberapa post yang bisa dilihat di halaman bawah.
Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Khuhn dengan karyanya The structure of Scientific Revolution (1962). Konsep paradigma yang di populerkan oleh Robert Friedrichs melalui bukunya Sosiology of Sosiology (1970) yang kemudian selanjutnya di ikuti oleh Lodahl dan Cordon (1972), Philips (1973), Effrat (1972) serta Friedrichs sendiri (1972a) dan (1972 b)
Paradigma merupakan terminologi kunci dalam model perkembangan ilmu pengetahuan yang diperkanalkan Kuhn. Tapi sayangnya ia tidak merumuskan dengan jelas tentang apa yang dimaksudkannya dengan paradigma itu. Malahan istilah paradigma yang dipergunakan tak kurang dari dua puluh satu cara yang berbeda. Masterman mencoba meredusir kedua puluh satu konsep paradigma Kuhn yang berbeda beda itu menjadi tiga tipe. Yaitu:
1. Paradigma Metafisik (metaphysical paradigma) memerankan beberapa fungsi:
- Menunjukan kepada sesuatu yang ada (dan sesuatu yang tidak ada) yang menjadi pusat perhatian dari suatu komunitas ilmuwan tertentu.
- Menunjuk kepada komunitas ilmuwan tertentu yang memusatkan perhatian mereka untuk menemukan sesuatu yang ada yang menjadi pusat perhatian mereka.
- Menunjuk kepada ilmuwan yang berharap untuk menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh ada yang menjadi pusat perhatian dari disiplin ilmu mereka.
Dengan demikian paradigman
metafisik ini merupakan konsenus yang terluas dalam suatu disiplin ilmu, yang
membantu membatasi bidang (scope) dari suatu ilmu sehingga dengan demikian
membantu mengarahkan komunitas ilmuwan dengan melakukan penyelidikannya.
2. Paradigma Sosiologi (Sociological Paradigma)
Paradigm sosiologi ini sangat
mirip dengan konsep exemplar dari Thomas Khun. Khun mendiskusikan
keanekaragaman fenomena yang mencakup dalam pengertian seperti:
kebiasaan-kebiasaan nyata, keputusan-keputusan hokum yang diterima, hasil-hasil
nyata perkembangan ilmu pengetahuan, serta hasil-hasil penemuan ilmu
pengetahuan yang diterima secara umum.
3. Paradigma Konstruk ( Construct Paradigma)
Paradigma konstruk adalah konsep yang paling sempit di
antara ketiga tipe paradigman yang di kemukankan oleh Masterman di atas. Di
contohkannya pembanguan reactor nuklir memainkan peranan sebagai paradigma dalam
ilmu nuklir.
Sampai sedemikian jauh masih belum diperoleh suatu pengertian yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan paradigma itu. Robert Friedrich adalah orang pertama yang mencoba merumuskan pengertian paradigma ini secara lebih jelas. Dalam upayanya menganalisa perkembangan sosiologi dari perspektif paradigma ini, ia merumuskan paradigma:
Sampai sedemikian jauh masih belum diperoleh suatu pengertian yang jelas tentang apa yang dimaksudkan dengan paradigma itu. Robert Friedrich adalah orang pertama yang mencoba merumuskan pengertian paradigma ini secara lebih jelas. Dalam upayanya menganalisa perkembangan sosiologi dari perspektif paradigma ini, ia merumuskan paradigma:
Sebagai suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu
tentang apa yang nmenjadi pokok persoalan (Subject Matter) yang semestinya di
pelajari ( a fundamental image a discipline has of its subject matter).
George
Ritzer, dengan mensintesakan pengertian paradigma yang telah dikemukakan
oleh Kuhn, Masterman dan Friedrich, mencoba merumuskan pengertian paradigma itu
secara lebih jelas dan terperinci tentang apa ya yang menjadi pokok persoalan
yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (discipline).
Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus
dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawab, bagaimana seharusnya
menjawabnya, serta aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam
menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab
persoalan-persoalan tersebut.
Mengapa timbul berbagai macam paradigma dalam
sosiologi?, factor apa yang membedakan atau menyebabkannya berbeda?
Persoalan diatas menurut George Ritzer disebabkan karena tiga factor.
- Karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan tentang apa yang semestinya menjadi substansi dari cabang ilmu yang dipelajari itu berbeda. Dengan demikian, asumsi atau aksiomanya menjadi berbeda antara kelompok ilmuwan yang satu dengan kelompok ilmuwan yang lain.
- Sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat yang berbeda itu maka teori-teori yang dibangun dan dikembangkan oleh masing-masing komunitgas ilmuwan itu berbeda. Pada masing-masing komunitas ilmuwan berusaha bukan saja untuk mempertahankan kebenaran teorinya tetapi juga berusaha melancarkan kecaman terhadap kelemahan teori dari komunitas ilmuwan yang lain.
- Dominasi , perbedaan teori melahirkan beberapa golongan komunitas yang saling untuk mendapatkan dominasi dari paradigma yang di anut masing-masing. Dukungan terhadap suatu paradigma menjadi lebih banya didasarkan atas pertimbangan politis di banding kan dengan pertimbangan obyektif ilmiah. Mereka yang mengganut paradigma yang dominan akan mendapatkan alokasi kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menganut paradigma yang kurang dominan.Dengan demikian dilapangan ilmu pengetahuanm system nilai (value system) juga turut berpengaruh di samping obyektifitas.
Ritzer
menilai bahwa sosiologi itu terdiri atas kelipatan beberapa paradigma (multiple
paradigma). Pergulatan pemikiran tersebut terjema juga dalam exemplar,
teori-teori, metode serta perangkat yang digunakan masing-masing komunitas
ilmuwan yang termasuk kedalam paradigma tertentu. Pergulatan pemikirian
sedemikian itulah yang menandai pertumbuhan dan perkembangan sosiologi sejak
awal hingga kedudukannya seperti sekarang.